Personal Portfolio of common things about woman and motherhood

Showing posts with label All Things Motherhood. Show all posts
Showing posts with label All Things Motherhood. Show all posts

Tuesday, January 10, 2017

Erich's ONE-derful 1st Year


Tak terasa! Setahun berlalu sepertinya cepat sekali. Bocahku yang lalu masih mungil banget sekarang sudah setahun usianya, tepat pada tanggal 3 Januari lalu. Aahhh.. nak..  luarbiasa. Senang,  terharu,  dan bersyukur tentunya. Menjelang ulang tahun pertama Erich, saya sering sekali terbawa perasaan oleh mood throwback pada masa-masa Erich masih newborn, susah senang menyusui,  ingat muka dia waktu masih bayi banget,  dan lain-lain.  Jadi saya suka melihat-lihat kembali foto-foto Erich waktu masih newborn. Mood throwback itu lalu membuat saya berpikir,  bahwa setahun yang terlewati bersama Erich adalah tahun yang sangat indah. Erich sungguh membuat hari-hari saya penuh warna. 

Lalu saya punya ide,  untuk merealisasikan mood throwback ke masa-masa indah setahun pertama kehidupan Erich. Saya merasa throwback itu penting banget untuk selalu mengingatkan kita agar selalu bersyukur. Beberapa waktu sebelum tanggal 3 Januari,  saya sering ditanya teman-teman,  "gimana, planning buat ulang tahun pertama Erich mo kayak gimana?", "Bakal dirayain gak?", dan sejenisnya. Jujur saya masih buram banget waktu ditanya seperti itu. Pikir saya, wah ga bisa mastiin nih akan ada pesta atau tidak,  soalnya minim budget, hahhahahah. Tapi yang saya pastikan pada diri sendiri,  pesta tak pesta,  tetap akan ada foto kenang-kenangan. Nah,  jadi tujuan saya itu yang utama ya foto. Saya pun mulai kepikira untuk mendokumentasikan moment ini. Pertama-tama, untuk memudahkan mengingat dan tracking di media sosial,  saya beri headline moment ini dengan Judul 'Erich's ONE-derful 1st Year',  tagline nya #erichsonederful1styear. Headline nya bernuansa angka 1, dan sesuai penjelasan sebelumnya,  bahwa setahun pertama yang terlewati bersama Erich adalah tahun yang one-derful (re: wonderful). 

Jadi,  #erichsonederful1styear itu bukan party ya.  Tapi sebuah moment. Moment ulang tahun pertama Erich,  dimana mama ingin mewujudnyatakan mood throwback setahun pertama Erich. Tujuannya untuk mendokumentasikan moment tersebut,  supaya bisa dilihat kembali dengan penuh rasa syukur. Kenapa bukan party? Ya karena emang gak ada rame-ramean. Jadi cuma ngumpul beberapa keluarga dan teman terdekat, ngobrol-ngobrol,  makan bareng, foto-foto,  udah gitu aja. Tapi ya tetep ada masak-masaknya dong.  Kalo itu sih urusan Oma Erich. Hahahaa.. Saya gak ngadain pesta ulangtahun yang ngundang bocah-bocah gitu. Karena saya rasa belum pas aja untuk ulang tahun pertama Erich. Karena Erich masih sangat moody,  jadi saya khawatir aja kalau-kalau saat pesta dia malah jadi cranky karena ngantuk misalnya. Jadi hilang moment deh. Makanya, saya pilih metode 'ngumpul-ngumpul apa adanya aja'. Jadi saudara-saudara dan teman-teman pada datang, kita berdoa bareng,  makan-makan,  sambil mereka makan-makan,  Erich dan mama papa foto-foto sambil pasang tiup lilin sendiri. Nyanyinya dalem hati aja. Hahaha. Karena ngantuk,  akhirnya Erich ketiduran lama banget. Tapi dia terbangun lagi jam 10 malam karena dibangunin mami rese nya,  hahaha. Akhirnya saya ajak foto-foto lagi deh si Erich,  tapi kali ink fotonya bareng bocah-bocah saudara-saudaranya dia. Pasang tiup lilin lagi,  tapi kali ini dinyanyiin ala kadarnya sama pasukan yang ala kadarnya pula. 

Nah,  untuk kepentingan potret memotret,  saya gak mau dong hanya polos-polos aja. Jadi dibikinlah dekor kecil-kecilan ala kadarnya. Temanya adalah D.I.Y. Rustic. Alasannya,  karena saya suka dengan prinsip menggunakan apa yang ada. Percaya deh,  dekor bagus gak perlu mahal kok. Kedua, saya suka sekali gaya rustic yang natural dan apa adanya.  Ketiga,  supaya irit cin. Jadi item dekornya terdiri dari flags bertuliskan judul moment ini yaitu #erichsonederful1styear, photo backdrop, cake table, dan mini table tempat souvenir dan lain-lain. 

Pertama,  untuk flags headline nya. Saya menggunakan koran bekas yang tersimpan dan gak kepake lagi. Lalu hurufnya saya print,  saya guntik mengikuti bentuk huruf,  lalu tempel di atas guntingan-guntingan koran bekas tadi. Setelah itu,  flags tersebut saya rangkaikan dengan menempelkan benang katun di belakangnya. Lalu tinggal tempel deh tembok. 


Nah untuk photo backdropnya. Sesuai headline #erichsonederful1styear,  saya ingin menunjukkan lewat foto-foto. Sebenarnya kalau persiapan lebih matang,  saya pengen bikin mini photo exhibition gitu. Tapi sayang belum sempat. Jadi bikin photo backdrop aja. Nah foto-foto yang dipilih adalah foto-foto lucu sejak newborn,  sampai umur hampir setahun. Saya sertakan juga beberapa milestone cards. Untuk tiang penyangganya,  saya pakai penyanggs ayunan Erich waktu masih bayi banget. Lalu ikatkan beberapa helai benang katun pada palang atas,  lalu tempelkan foto-foto pada benang tersebut. Karena foto-fotonya suka muter kebalik menghadap belakang,  jadi saya nyuruh suamj (si eksekutor),  supaya mengikat benang katun juga pada tiang kiri dan kanan,  lalu foto ditempel juga pada benang-benang tersebut. Tapi saya gak sempat nempelnya. Tapi lumayanlah cukup menghalangi foto untuk muter-muter. 




Untuk birthday cakenya sendiri, duh jujur saya malu nih nulisnya. Niat awalnya saya pengen bikin naked cake,  dikasih sedikit icing hanya pake butter cream saja. Tapiiiii,  saya gagal total saat bikin kuenya. Duh saking lamanga ga bikin kue,  sekalinya bikin langsung gagal total. Saya bikin carrot cake tapi sayang tepungnya kurang,  jadi saat dipanggang cakenya jadi nyusut banget. Tapi syukurnya Erich dapat hadiah cake dari mama Vina dan mama Huncess. Selamat deh.  Hahahaha. Cake tablenya saya pake meja rak dari kosan suami dulu. Iya meja rak yang suka dijual keliling sama om-om terus teriak "meja rak meja rak!", Hehehe. Di sebelah kueanya diletakkan pajangan name tag Erich,  didesain dan diprint sendiri oleh mama Obol. Dan tepat di belakang kue diletakkan milestone card bertuliskan "Today I'm 1 Year Old". Karena mejanya meja rak,  jadi di rak keduanya supaya gak polos-polos aja saya letakkan toples-toples kue natal,  dan pompom dari koran bekas hasil kreasi mama Obol. Duh kreatifnya mama Obol ini. 


Nah sebagai pemanis yang turut meramaikan, saya sertakan satu mini table untuk meletakkan souvenir,  serta beberapa foto Erich sebagai pajangan. Fotonya digantung pada tali akar yang diikatkan pada dua botol wine bekas yang saya kreasikan kembali pakai koran bekas dan kain burlap. Di atas meja tersebut juga diletakkan beberapa souvenir tas serut buatan mama Astty. Oh iya kenapa ada souvenir,  padahal kan bukan party. Iya,  jadi saya siapain souvenir untuk dikasih ke bocah-bocah saudara aja. Kan banyak tuh ponakan-ponakan saya yanf ngumpul di rumah. Saya kasih tas serut yang isinya snack, supaya mereka happy aja. 






Saya happy banget, karena banyak yang terkesima dengan tas serut ini. Yap,  karena handmade dan handdrawing. Digambar sendiri oleh mama Astty lho! Hebat kan!? Awalnya kebetulan aja lagi ngobrol whatsapp sama mama Astty,  soal kebingungan mo rayain ulang tahun Erich atau tidak. Saya ngadu ke dia,  duh pengennya ngumpul-ngumpul aja terus makan-makan. Tapi kan banyak bocah,  kurang greget aja gitu kalau mereka pulang dengan tangan hampa. Mo pesan souvenir di vendor resmi dan jam terbang tinggi,  mahaaaall. Hahaha. Saya iseng aja tuh nyeloteh "gimana kalo kamu buatin"? Seriusan cuma becanda. Taunya mama Astty mau lho. Padahal saya udah tanya berkali-kali,  yakin mau padahal kan mama Astty ada kesibukan lain. Eh mama Asttynya menyanggupi dan memberanikan diri untuk mencoba. Alhasil terbitlah 'Popolulu'! Brand dari handmade project mama Astty yang akhirnya launching online di instsgram. Dan saya happy banget karena jadi customer pertamanya. Yeay! Oh iya,  sebenarnya ada ide lain yang belum sempat terwujud. Karena susah mengkoordinir bocah-bocah ponakan saya itu. Jadi saya udh nyiapin kertas dan krayon,  yang seharusnya bocah-bocah itu menggambar bentuk telapak tangan mereka lalu mewarnainya dengan krayon. Tapi semua tidak terwujud. Hahaha. Tak apalah, lain kali saja. 
Oke, jadi kira-kira seperti itulah cerita dibalik moment #erichsonederful1styear. Semoga bermanfaat. Kalau ada yang berencana merayakan atau tak merayakan ulang tahun anak mereka, yang terpenting adalah nilai dari moment tersebut. Entah dirayakan atau tidak, sebuah moment akan menjadi bernilai ketika kita meresapi moment tersebut,  dan mensyukurinya tentu saja. Soal bentuk mensyukuri dengan perayaan atau tidak, itu pilihan kita tentunya. 

Sekarang ijinkan saya untuk menuliskan catatan kecil untuk anak saya. 

"Dear sayangku Erich, selamat ulang tahun nak. Tidak ada kata-kata yang dapat mewakilkan betapa bersyukurnya mama dan papa atas kehadiranmu. Dan tidak ada hal apapun yang bisa menggambarkan betapa besarnya cinta mama dan papa terhadap Erich. Semoga Erich bertumbuh menjadi seseorang yang mandiri, dan selalu berpegang teguh pada apa yang Erich yakini kebenarannya. Semoga Erich selalu mengingat bahwa mama dan papa sangat mencintai Erich. Apapun yang akan terjadi, cinta mama dan papa akan selalu sama, bahkan semakin bertambah dari hari ke hari. Kalau suatu saat nanti mama dan papa tidak bisa memberikan apa yang Erich inginkan, kami harap  Erich bisa memahami bahwa cinta tidak selalu berarti memberi apa yang diinginkan, tetapi kami selalu berusaha untuk hadir dalam setiap musim di kehidupan Erich. Mama dan papa tidak bisa berjanji untuk menjadi orangtua yang tidak pernah marah sama Erich. Mungkin akan ada saat-saat tertentu dimana mama akan merasa kesal dan marah kepada Erich. Tetapi kalau saat-saat itu tiba, mama harap semoga Erich bisa memahami bahwa suatu hubungan cinta tanpa jatuh bangun adalah hal yang tidak mungkin. Bahwa setiap amarah yang nampak dari mama tidak lebih dari ungkapan kekesalan yang akan berlalu sesaat setelah itu, lalu semua akan berubah menjadi pelukan hangat yang mencairkan suasana. Mama harap kita akan selalu bisa mengakhiri setiap amarah dengan pelukan hangat. Mama harap Erich selalu bisa merasakan, bahwa mama dan papa selalu meminta pada Tuhan, agar Erich diberikan kebahagiaan, kesehatan, umur panjang, serta masa depan yang cerah. Mama dan papa bangga sama Erich, bukan karena pencapaian-pencapaian yang akan Erich buat nanti. Melainkan mama dan papa sendiri sudah dibuat bangga sejak Erich masih berada di dalam kandungan mama. Jadilah anak yang penuh cinta ya nak, dimanapun Erich berada. Karena kamulah pemersatu sejati cinta mama dan papa.
We Love You, Erich sayang.."




Peluk cium, mama dan papa.











Read More

Wednesday, December 21, 2016

Erich's First Painting Play Time


Hallo lagi. Mau cerita sedikit tentang pengalaman saya kemarin. Jadi ceritanya saya lagi bosan banget siang-siang gak ngapa-ngapain,  karena oma Erich lagi libur jadi Erich main sama omanya. Seperti biasa, kalau sedang bosan pasti yang pertama saya lakukan adalah membuka beberapa platform media sosial favorit saya,  yaitu instagram dan pinterest.  Tujuannya,  untuk mencari ide mau ngisi waktu dengan kegiatan apa. Belakangan ini, saya sering mencari ide di pinterest tentang kegiatan untuk bayi dan anak-anak. Ternyata banyaakk banget.  Tapi yang paling bikin saya tertarik adalah melukis. Iya, happy aja ngeliat bocah belepotan warna-warni,  hehehe.
Tapi masalahnya saya belum beli cat untuk melukis. Namun karena kepengen banget liat Erich celemotan warna,  saya coba cari benda lain yang bisa dimanfaatkan. Pergilah kemudian saya ke dapur,  dan buka kulkas.  Saya nyari pewarna makanan kalau masih ada atau tidak. Dan ternyata ada! Duh senangnya.  Sebenernya yang ada di kulkas waktu itu ada pewarna sekaligus perasa makanan,  ada juga yang pewarna saja. Nah karena pewarna (bukan perasa) ini teksturnya lebih cair, jadi saya pikir kalau mau dicampur air pasti warnanya jadi muda banget. Jadi saya pakainya yang pewarna sekaligus perasa makanan. Saya dapat 3 warna dan rasa serta aroma.  Warna hijau dengan rasa dan aroma pandan, warna merah dengan rasa dan aroma stroberi,  serta warna cokelat dengan rasa dan aroma cacao. Saya gunakan sekitar satu sendok teh,  diencerkan dengan sedikit air. Untuk intensitas warnanya,  memang akan lebih pudar disaat sudah kering. Kemudian untuk kertasnya saya cuma pakai beberapa lembar kertas hvs.


Tibalah waktunya untuk eksekusi. Karena lantai rumah masih concrete tanpa acian,  jadi saya alas dulu lantainya dengan evamat. Kalau punya plastik lebih bagus,  lebih gampang dibersihkan. Tapi karena saya gak punya,  saya pakai aja evamat. Lalu saya atur kertas dan pewarna,  lalu saya dudukin si bos Erich di depan perintilan yang siap digunakan.  Eeeeehhh dia main nyelonong aja mau ngambil pewarnanya. Karena saya belum rela semua warna tumpah begitu aja,  saya tahan dulu tangannya si bos,  dan saya contohin dengan mengambil daun, dicelupkan ke dalam pewarna kemudian di stamp ke atas kertas sehingga membentuk pola tertentu. Oh iya tadi saya lupa bilang ya,  saya juga mengambil beberapa helai daun di halaman untuk dijadikan brush. Kembali ke si bos. Selain pakai daun,  saya juga memperlihatkan bagaimana saya bermain pewarna dengan menggunakan jari-jemari saya,  lalu mencoret-coret di atas kertas. Tapi Erich ga peduli tuh,  hahaha. Tetep Ujung-ujungngnya wadah pewarnanya diambil,  terus dibalik-balik, dan tumpahlah kemana-mana pewarna tersebut. Tapi saya samasekali gak mempermasalahkan dan malah senang banget. Karena begitulah cara dia dalam mengeksplorasi hal apapun yang dia lihat. Supaya tetap ada portofolionya,  saya gak kehilangan akal dong.  Yap! Bekas tumpahan warna-warni hasil perbuatan Erich itulah yang saya ambil dengan menempelkan kertas ke atas evamat yang penuh dengan warna. Jadilah gambar acak-acakan karya Erich dan mama!


So what is the point that I learned?
Untuk bermain sambil belajar bersama anak itu bisa dimana aja dan kapan aja. Setelah melihat banyak contoh di pinterest tentang montessori babysensori play,  dan sejenisnya, saya nangkep intinya adalah memberdayakan koordinasi antara panca indera dengan otak si kecil. Saya belum baca secara mendalam sih.  Tapi kira-kira seperti itulah menurut saya. Nah, masalahnya dulu saya juga sempat punya pikiran yang agak sempit bahwa sensori playtime itu hanya bisa terwujud dengan fancy toys yang ditawarkan oleh brand-brand tertentu. Tetapi ternyata saya temui bahwa kenyataannya tidak harus selalu seperti itu. Anytime could be a sensori playtime,  anywhere. Asalkan kita bisa menjelaskan kepada anak kita apa yang sedang terjadi dengan pancaindera mereka. Jadinya mereka gak hanya sekedar bermain,  tetapi otak mereka juga mencerna penjelasan kita setelah mereka mendengarkan. Dan juga, memberikan pembanding sehingga pancaindera mereka tersebut bisa mengenal objek yang lebih bervariasi.
Yang terpenting menurut saya, bermain bersama anak tujuan utamanya adalah untuk menikmati waktu yang berkualitas bersama mereka. Bukan untuk memaksakan mereka menjadi super genius yang harus selalu ranking 1 selama masa sekolah nanti. Tetapi nilai-nilai positive yang ingin saya tanamkan kepada anak adalah agar mereka nantinya bisa punya mental yang tidak mudah menyerah dalam mengatasi masalah. Dan wawasan yang luas bermanfaat sekali lho dalam pemecahan berbagai masalah. Tetapi yang terutama untuk menciptakan mental yang baik pada saat dewasa,  saya percaya adalah dengan memberikan sebanyak mungkin kebahagiaan disaat masa kecilnya,  salah satunya dengan bermain bersama.
Read More

Tuesday, December 13, 2016

How I Deal with Anger and Guilt


Sebelum punya anak saya sering sekali membayangkan kalau segala hal tentang mengurus anak pasti dapat dilewati dengan mudah. Termasuk tentang kesabaran menghadapi tingkah-tingkah mereka yang terkadang (bahkan seringkali) menyebalkan. Makanya dulu saya suka sinis kalau melihat ibu-ibu suka marah-marah sama anaknya, apalagi sampai berteriak atau bahkan memukul, haduh.
Tetapi setelah saya sendiri punya anak, jeng jeng! Ternyata semua tidak semudah yang pernah dibayangkan. Ternyata sulit sekali menghadapi anak yang terus bertumbuh dan berkembang, dan mereka semakin mengerti apa yang mereka suka dan tak suka. Satu hal yang paling pokok dan seringkali terlupa oleh para mama seperti saya, yaitu perspektif atau sudut pandang anak. Yang mereka tahu hanyalah mendapatkan apa yang mereka sukai, itu aja yang pokok. Tapi pada kenyataannya, seringkali hal yang mereka sukai itu justru hal-hal yang sebenarnya 'belum boleh' mereka pegang atau mainkan. Ini nih yang sering bikin mama kehilangan kesabaran dan berujung marah-marah. Kalau berdasarkan pengalaman saya, kemarahan akan terjadi apabila anak saya mulai bertingkah macam-macam sementara saya harus mengerjakan hal lain yang penting juga di waktu yang sama, dan tidak ada pilihan lain selain beraktivitas sambil menggendong. Contohnya, disaat saya harus memasak makanan untuk anak saya, tetapi dia justru cepat bosan duduk di stroller dan melempar mainan-mainan yang diberikan padahal baru dimainkan beberap menit saja. Akhirnya saya harus memasak sambil menggendong yang ternyata luar biasa melelahkannya. Yang paling menjengkelkan, misalnya nih saya lagi merebus kacang hijau atau kacang merah. Giliran udah matang dan hanya tinggal nunggu airnya berkurang aja, tiba-tiba bos kecil cranky karena bosan di dapur, saya ajaklah dia ke ruang nonton. Belum genap semenit di ruang nonton, bosan lagi dan pindah lagi ke ruang lain. Akhirnyaaa, saya lupa dengan si kacang hijau yang sudah matang, dan berakhir menyedihkan setelah tercium bau hangus yang tidak diinginkan. Kesal kan? Yang bikin kesal buat saya, saya memasak makanan kan maksudnya baik untuk kebutuhan si anak juga. Selain karena tidak ada pembantu, dengan memasak sendiri kita juga bisa belajar menangani makanan, dan memastikan kebersihan dalam proses memasak. Tapi sedih banget untuk melaksanakan proses memasak yang mulus ternyata susahnya minta ampun.
Contoh lain, setelah kesal dan lelah yang luarbiasa dalam proses memasak yang gagal tadi, tibalah saatnya untuk menidurkan anak karena sudah waktunya bobo siang. Saya pernah baca headline salah satu artikel bahwa tidak baik memaksa anak untuk tidur. Dalam situasi tertentu mungkin benar. Tapi coba dibayangkan, kalau nyata-nyata nampak anak kita udah ngantuk banget dan cranky banget, tidak mungkin kan kita biarin gitu aja? Saya sih menganggap mungkin setiap bayi akan melewati fase-fase 'susah diajak tidur siang' entah di usia berapa dalam masa kecil mereka. Jujur aja saya pernah ga kuat menahan emosi saat menidurkan anak dengan keadaan tubuh serasa mau pingsan, tapi dianya masih cranky dan banyak tingkah. Bahkan saya pernah berteriak dan nangis bombay sangking emosinya. :( Lebih sedih lagi, semua kelelahan dan kecapean itu harus saya hadapi sendiri karena suami yang bekerja di luar kota. Mau tidak mau saya berpikir, tidak ada yang dapat menolong saya. Yang bisa menolong saya hanya Tuhan dan diri saya sendiri. Selain dua contoh tersebut, masih banyak lagi kejadian-kejadian dalam mengurus bayi yang benar-benar melatih kesabaran kita sebagai perempuan.
The point that I want to share is, marah itu manusiawi. Tetapi bagaimana kita menyikapi kemarahan, itu yang terkadang tak manusiawi. Seperti saya yang pernah lepas kendali sampai teriak nangis di depan anak, akhirnya menimbulkan rasa bersalah yang lebih kelabu lagi untuk dihadapi setelahnya. Kemudian saya pahami bahwa there's no way motherhood without anger and guilt. Dalam menjalani peran sebagai ibu, kita tidak akan pernah bisa sempurna, dan akan selalu ada hal-hal yang membuat kita merasa bersalah.
So how I deal with anger and guilt as a mom?
1. Let it Out!
Pertama saya biarkan amarah saya keluar, biasanya dengan menangis. Tetapi saya memberi batasan waktu untuk menangis, misalnya cukup 5-10 menit, setelah itu;

2. No Matter What, The Show Must Go On!
KEMBALI KE KENYATAAN. Udah cukup nangisnya, sekarang saatnya back to reality. Saya menyadari bahwa bagaimanapun kondisi emosi kita, kenyataannya kita punya anak yang membutuhkan kita. Dan masih banyak sekali hal lain yang harus kita lakukan dalam mengurus anak kita. Jadi saya biasanya setelah sesi nangis bombay selesai (biasanya sih anak saya ikutan nangis bombay juga, jadi kita bareng deh heheheh), saya mulai membujuk anak saya dengan membawanya keluar, atau apapun untuk mengalihkan perhatiannya supaya ia berhenti menangis. Terkadang juga papa saya ikut turun tangan membantu menggendong kalau sudah mendengar saya ngomel atau anak saya nangis. Itu kalau papa ada di rumah. Kalau tidak ada, ya sayalah yang harus menangani.

3. Cooling Down
Netralkan Mood. Setelah reda, saya mulai mengajak bicara anak saya, dan saya meminta maaf. Saya fokus kepada kontak mata, supaya mendapat penuh perhatiannya. Lalu saya jelaskan menggunakan kata-kata seperti berbicara kepada oranf dewasa. Saya jelaskan kepada dia dengan nada lembut tetapi serius, bahwa mama sangat kelelahan, karena tidak sanggup melakukan semuanya sendiri. Terlepas dari ia paham atau tidak, saya tetap menjelaskan. Saya yakin dia mengerti maksud saya tanpa harus memahami arti dari ucapan saya. Setelah itu, keadaan cenderung lebih tenang, dan satu hal yang luarbiasa ajaib saya pelajari, bahwa bayi kita menangkap aura yang ada pada diri kita. Saat saya marah, emosi tidak stabil karena kelelahan, anak saya pasti ikutan cranky juga, bahkan nangis bombay seperti dijelasin tadi. Tetapi begitu saya kembali tenang, dia pun ikut tenang dan tidak mau terlepas dari pelukan mama! Hal ini selalu menjadi favorit saya sampai kapanpun.

4. Forgive Yourselft
Look Back and Revie. Setelah itu, saya tentu saja belum terbebas dari perasaan bersalah karena telanjur marah sama anak. Saya pernah membaca postingan Mamaofsnow tentang mom guilt, dan salah satu cara mengatasinya adalah stop feeling guilt! Berhentilah merasa bersalah karena itu tidak membuat kita menjadi ibu yang baik. Saya setuju sekali. Kemudian saya berpikir, bagaimana caranya saya berhenti merasa bersalah sedangkan kenyataannya saya sudah telanjur berbuat salah, dan kali ini disertai rasa takut kalau-kalau ke depan saya akan berbuat salah lagi dgn kesalahan yang sama. Nah, begini cara saya untuk stop feeling guilt. Pertama, mengampuni diri saya sendiri. Memaafkan diri sendiri penting banget. Saya paham batas kemampuan diri saya. Dan saya pun memahami bahwa marah adalah salah satu emosi dasar yang dimiliki manusia. Akhirnya saya berdamai dengan diri sendiri, dan saya memaafkan diri saya sendiri. Tapi harus diingat, makna paling utama dari mengampuni diri sendiri adalah komitmen untuk berusaha agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama di waktu yang akan datang. Biasanya dalam sesi ini saya berdoa, saya mohon ampun sama Tuhan, dan saya mohon diberikan kekuatan agar tidak mengulanginya lagi. Lalu saya berpikir lagi, bagaimana caranya agar saya tidak mengulanginya lagi? Lagi-lagi saya takut kalau situasi yang sama akan terulang. Yang saya lakukan adalah saya mencoba mencari tahu penyebab kemarahan saya. Yang membuat saya marah bukanlah tingkah anak saya. Tetapi justru diri saya sendiri yang membuat saya lekas marah. Fisik saya yang kelelahan, membuat kemampuan untuk fokus menjadi menurun. Saya sadar itulah penyebabnya. Saya sadar mungkin kalau konfisi fisik saya lebih bugar, pikiran saya akan lebih mudah untuk fokus, dan saya akan lebih baik pula dalam mengendalikan pikiran dan diri saya.

5. Fix it!
Setelah saya pahami penyebabnya, saya lalu mulai menyusun langkah-langkah untuk memperbaikinya. Misalnya, agar saya lebih bugar, saya mulai mengoreksi pola makan, pola tidur, serta aktivitas yang kurang baik untuk kebugarqn tubuh. Saya mulai memperhatikan kondisi tubuh misalnya dengan minum air putih lebih banyak, tidak melupakan jam makan. Dan lain-lain.

6. Be Mindful.
Nah ini yang paling penting, mindfulness dalam menjalani peran kita sebagai seorang ibu. Sebenarnya bukan sebagai ibu saja, tetapi juga sebagai seorang isteri, seorang anak, seorang pekerja, ataupun lebih luas lagi sebagai seorang wanita dan seorang manusia. Menurut pengalaman saya, kunci utama untuk mencapai mindfulness adalah rasa syukur. Itu yang utama dan terutama. Kita mesti bersyukur! Tapi sayangnya kita sering lupa bersyukur karena terlalu sibuk dengan keseharian yang melelahkan. Lalu bagaimana caranya untuk selalu ingat akan rasa syukur? Banyak! Banyak sekali caranya. Memang tidak bisa dipungkiri cara-cara yang sifatnya religius sesuai dengan ajaran agama yang kita anut bisa jadi cara yang cukup ampuh untuk mengingatkan kita agar selalu bersyukur. Misalnya dengan meluangkan beberapa menit setiap hari untuk jam doa, membaca kitab suci, dan lain-lain. Saya pernah juga menerapkan cara seperti itu, tetapi harus saya akui saya belum cukup konsisten dan disiplin dengan jam doa. Jadi saya siasati dengan memanfaatkan media sosial dan 'me-time' kecil yang saya dapatkan saat anak saya tidur. Saya membuat moodboard khusus tentang spiritual di platform Pinterest, dan diisi dengan postingan-postingan yang bisa membangkitkan moof positif dan memberi kesejukan. Tapi, saya tetap mengusahakan untuk membaca kitab suci secara langsung, karena memang mood yang didapatkan akan terasa berbeda. Hindari segala hal yang membangkitkan mood negatif. Atau bisa juga dengan menyediakan buku catatan kecil, yang bisa jadi semacam mood journal. Jadi tuliskan apa saja ide yang tiba-tiba terlintas di kepala, apapun itu, yang random sekalipun. Misalnya nih, saya suka mengadakan sesi photoshoot kecil-kecilan ketika anak saya ulang-bulan. Ketika di kepala saya tiba-tiba muncul ide untuk photoshoot, langsung saya tuliskan di buku notes, bila perlu lengkap sengan sketsanya. Menulis dan menggambar bisa jadi mood therapy lho ternyata. Oh iya, agak telat sih.. Tapi saya punya niat yang belum kesampaian yaitu membeli coloring book for adults yang katanya bisa jadi mood therapy juga. Dan sepertinya emang iya sih. Sekalian untuk merangsang naluri seni yang entah pergi kemana dari diri ini, hehehe. Oke, intinya, anger and guilt management dalam keseharian kita (terutama sebagai seorang ibu) itu sangat penting, dan membutuhkan usaha yang cukup keras, tetapi bukan tidak mungkin untuk kita capai. Kuncinya, kita hanya perlu melihat kembali ke dalam diri kita, itu aja. Lihat kembali ke dalam diri kita.
Semoga bermanfaat.

Read More

Saturday, July 2, 2016

ERICH's 6 MONTHS OLD


Hari ini, Minggu 3 Juli 2016 kamu genap 6 bulan, nak. Dan mama selalu suka kalau kamu genap bulannya jatuh di hari minggu, karena persis dengan hari lahirmu. Ini catatan kecil, sedikit cerita tentang perkembanganmu, dan susah senang yang kita lewati.
Sudah bisa apa saja kamu di usia 6 bulan ini? Banyak nak. Yang paling dominan, kamu hobi sekali membungkus jempolmu dengan kain (baju yang dipake orang yang lagi gendong kamu) lalu masuk mulutmu. Kamu kurang suka kalau hanya jempol saja yang masuk mulut, hehehe. Hobi kedua, teriak-teriak dan ngoceh-ngoceh "aaaah!", "bababaaahh", "papapapaahh", somewhere between "baba and papaah", "mamamama", "buahhpuaahh", dan "ngga" (kosakata andalan dari kamu baru lahir). Hobi ketiga adalah berguling-guling. Kalau kamu dilepas di tempat tidur mama ga bisa meleng kiri kanan walaupun hanya sedetik. Oh ya, kamu juga suka ngeselin dengan hobi bobo pura-puramu itu. Giliran mama mulai sayup, eeehhh kamu dengan segernya udah tengkurap aja. Tetapi belakangan kamu mulai pinter nak, tak susah lagi boboin kamu. Kalo siang cukup didorong-dorong aja pake kereta keliling rumah, sampe kamu nunduk sendiri dan tutup mata. Tinggal mama angkat, susuin, dan bobo kah kita berdua. It such a blessing moment, dear. Mama suka sekali ekspresimu kalo lagi nenen dengan mata ngantuk yang gemesnya luarbiasa. Apalagi ditambah suara rengek-rengek manja itu, aaahhh!! Terlalu menggemaskan kamu nak.
Eh tapi entah kenapa sih, tadi malam kamu rewel lagi sebelum tidur. Kamu lapar ya nak? Makanya setelah mama kasih biskuit, baru deh kamu mendingan nangisnya dan bisa bobo. Iya kamu memang udah mama kasih cicip-cicip makanan dari 5bulan 2minggu. Mama kasih biskuit, pernah juga dikasih pepaya. Tapi kamu sempat konstipasi nak. Tapi tetap santai sih kamu, memang kanu jagoan.




Gigimu belum ada yang bertumbuh. Tetapi kamu mulai hobi gigit puting mama dengan gusimu. Itu ngeselin lho nak. Tapi kamu hebat lho. Motorik halusmu sudah baik sekali. Kamu sudah pintar menggenggam benda-benda (yang ukurannya sesuai kepalan tanganmu), dan pintar juga memasukannya ke mulut. Genggamanmu juga sudah kuat. Kamu suka mencubit. Oh ya, kakimu juga sudah kuat menopang badan. Tetapi belum bisa berdiri sendiri lho ya, hehehe.



Kamu itu murah senyum, tapi pelit ketawa. Yang paling jago bikin kmu ketawa terbahak-bahak itu opa. Kalau mama perlu agak kerja keras sih, hehehe. 
Kamu tahu kan nak, sekarang papa lagi jauh. Tapi papa sama mama sudah agak jarang telponan. Tau kenapa? Karena biasanya kalau mama lagi ngobrol sama papa di telpon, kamu ga mau ketinggalan. Kamu memang atuni (anak tukang nimbrung) papa mama daridulu. Jadi kalau telpon mama pasang loudspeaker supaya kamu bisa dengar suara papa juga. Ya selain kamu excited dengan suara papamu, kamu juga excited dengan ponsel mamamu. Gayamu naakk gayamuu mau pegang hape mama, dan habis itu kamu masukin mulut juga. Uh uh uh..




Hmmm apa lagi ya? Hmm.. Oh ya, kamu makin ekspresif nak. Kamu mulai bisa merespon kalau mama memainkan berbagai ekspresi wajah ke kamu (tanpa suara, hanya ekspresi). Visualmu sudah bagus sekali perkembangannya. Mata kamu bisa mengikuti gerakan-gerakan cepat. 
Dan puji Tuhan, most of all those progresses, kamu adalah anak yang sehat dan bahagia ceria sayang. Hmm.. Masih banyak sebenarnya hal-hal yang kamu bisa, tetapi tidak cukup mama uraikan satu per satu di sini.
Intinya, mama wants to say thankyou, Erich sayang. Terima kasih, sudah mau minum air susu mama. Terima kasih sudah mau dipeluk emdan digendong sama mama. Maafkan mama ya nak, mama belum bisa mengasuh Erich dengan sempurna dan tanpa cela. Jangankan untuk Erich, diri sendiri pun terkadang masih sulit untuk mama hadapi. Maafkan mama, kalau mama pernah marah sama Erich. Erich harus tau, bahwa mama selalu berusaha sekuat yang mama bisa, untuk mengasuh Erich dengan cinta. Mama akan selalu berusaha melindungi Erich. Tetapi karena mama hanya manusia biasa, mama tidak akan selamanya bisa melindungi Erich. Oleh karena itu mama ingin mendorong agar Erich bisa tumbuh menjadi anak yang kuat, bisa melindungi diri sendiri, terlebih selalu ingat untuk meminta perlindungan yang sempurna dari Tuhan.
Selamat 6 bulan ya, sayang mama papa. Doa papa mama, kiranya kamu bisa merasakan betapa kita sangat menyayangi dan mencintai kamu nak. Walaupun sekarang kita sedang berjauhan dengan papa, tetapi cinta papamu untuk kita berdua terlalu kuat, lebih dari yang kita bayangkan. Papa mama akan selalu ingat Erich dalam setiap doa kita. Semoga Erich selalu dalam pengawasan Tuhan, dijauhkan dari segala kejahatan dan hal-hal tidak baik. Semoga bertumbuh menjadi anak yang sehat, bahagia, ceria, takut akan Tuhan, dan penuh cinta.
We love you, anak papa mama ERICH!





Peluk Cium,
Papa & Mama.
Read More

Saturday, June 25, 2016

Mom & Jane Newborn Moments and Milestone Cards

Semua ibu pasti jadi sering sekali memotret si kecil setelah punya bayi. Ada yang sekedar foto apa adanya, ada juga yang niat banget sampe bayinya harus didandani dulu dengan outfit yang semenarik mungkin. Jaman sekarang untuk buat foto bayi yang super kece sudah cukup mudah. Apalagi ditambah dengan hadirnya item-item dekorasi untuk membuat foto menjadi lebih lucu. Salah satunya adalah baby milestone cards.

Mom & Jane Milestone Cards

Sebenarnya saya agak telat tahu soal baby milestone cards ini. Saya cuma lihat-lihat orang upload foto bayi pake kartu yang ada tulisan-tulisannya, tapi saya tidak tahu itu namanya apa. Saya lihat, lucu juga ya foto anak pakai kartu-kartu gitu. Akhirnya saya browse di instagram, dan ketemu beberapa online shop yang menyediakan milestone cards. Tetapi harganya cukup mahal. Dan desainnya yang tidak terlalu saya suka. Akhirnya saya browse lagi dan browse lagi, saya ketemu Mom & Jane. Waktu itu namanya masih Janeeta Petite, sekarang mereka sudah berganti nama menjadi Mom &Jane. Setelah saya lihat mereka ternyata menjual milestone cards. Dan, saya jatuh cinta dengan desainnya! Simple, tetapi menggemaskan. Warna-warnanya elegan, tetapi tetap ada kesan cute nya untuk anak-anak. Setelah itu, saya langsung add line official mereka untuk menanyakan harga. Dan saya makin jatuh cinta lagi, karena harganya jauh lebih murah dibanding yang lain. Tapi yang paling utama yang bikin saya mau beli tentu desainnya. Jadi waktu itu saya pikir berapapun harganya tetap saya beli deh. Eh ternyata harganya tidak mahal. Bahkan ongkos kirim ke kota saya yang lebih mahal. Tapi tetap saya ambil saking sukanya dengan desain kartunya.

Mom & Jane Milestone Cards

Kartu-kartu dari Mom & Jane ini terdiri dari beberapa varian desain. Pada saat saya beli bulan April 2016 lalu, mereka punya 5 variasi desain. Ada Classic Wreath, Black & Gold, Bunny, Hummingbirds, dan Monochrome Minimalist. Untuk Classic Wreath, secara umum desainnya terdiri atas warna hitam dan putih, dengan motif bunga klasik. Sedangkan untuk black & gold tentu saja terdiri dari warna motif hitam dan gold, di atas dasar warna putih. Desain Bunny, terdiri dari warna-warna pastel yang lembut di antaranya kuning, merah muda, oranye, ungu, abu-abu, dan lain-lain. Hummingbirds, umumnya bermotif bunga-bunga serta dedaunan dengan warga hijau mint, hijau olive, merah muda, dan lain-lain. Monochrome minimalist merupakan desain favorit saya. Karena saya suka desain yang simple dan warna hitam dan putih.


Bunny Milestone Cards


Hummingbirds Milestone Cards


Monochrome Milestone Cards

Ketentuan untuk memilih desain, kita bisa pilih kombinasi lebih dari satu jenis, tetapi harus jenis yang sama harganya. Berdasarkan kelompok harga, yang bisa dikombinasikan saat itu di antaranya Classic Wreath dengan Black Gold, dan Bunny, Hummingbirds serta Monochrome Minimalist bisa dipilih dua di antaranya, ataupun ketiganya sekaligus. Saat itu saya pilih kombinasi antara Bunny, Hummingbirds, dan Monochrome Minimalist. Supaya lebih beragam aja. Satu setnya terdiri dari 36 kartu, masing-masing ukurannya A6 (rounded edges), bahan Ivory 300GM. Dari 36 kartu tersebut, kita bisa pilih 5 diantaranya untuk custom kata-kata. Kata-kata standar di tiap kartu terdiri dari:
Mom & Jane Milestone Cards
Photo Courtesy of Mom & Jane

Nah itu dia sedikit review dari saya tentang baby cards dari Mom & Jane. Over all, saya suka sekali dengan produk ini. Semoga ke depannya Mom & Jane bisa menyediakan juga kartu-kartu yang bukan hanya milestone saja. Semoga bisa jadi referensi untuk yang sedang mencari produk serupa.


Read More

Friday, June 24, 2016

Breastfeeding Essentials

Breastfeeding Essentials (Perlengkapan Menyusui)

Kalau saya ditanya benda apa yang paling wajib dimiliki oleh ibu menyusui, saya akan jawab tiga item yaitu breastpump (pompa ASI), breastpad (bantalan penyerap ASI), dan nipple cream. Mengapa ketiganya? Karena menurut saya tiga item tersebut adalah penyelamat utama dari 3 situasi paling merepotkan yang pernah saya alami setelah menjadi ibu menyusui. 3 hal tersebut adalah payudara bengkak, asi merembes, dan puting lecet.

1. Pompa Asi (Breastpump)
Hal merepotkan pertama adalah payudara bengkak. Ini biasanya saya alami saat anak saya sedang sakit. Kalau lagi panas, nafsu minumnya menurun drastis. Alhasil payudara bengkak dan rasanya tidak nyaman sekali. Sakit, dan keras seperti batu. Untuk itu, saya perlu penyelamat saat hal itu terjadi. Dan jawabannya adalah: tadaaaaa!!! Pompa asi (breastpump). Memang sih, kondisi seperti di atas jarang terjadi, tetapi sekalinya terjadi, bingung banget kalau tidak ada breastpump. Selain itu, breastpump juga item wajib bagi ibu-ibu (terutama working moms) yang hendak menyimpan ASIPnya. Kalau saya sih, menyimpan ASIP hanya kalau ada keperluan saja. Breastpump terdapat dua jenis, manual dan elektrik. Saya pilih yang manual, karena kepentingan untuk memompa hanya sekedar mengosongkan payudara, bukan untuk menyimpan ASIP dalam jumlah banyak. Tetapi jika ibu-ibu adalah working moms dan harus menyimpan ASIP dalam jumlah banyak, penggunaan electric breastpump lebih disarankan. Yang saya gunakan adalah Philips Avent Natural Brastpump Manual, belinya di Mothercare Manado Town Square (MANTOS). Harga sekitar IDR 700-800K (Januari 2016).

Philips Avent Natural Breastpump Manual

2. Breastpad (Bantalan Penyerap ASI)
Hal merepotkan kedua menurut saya adalah asi yang tumpah dan menetes atau muncrat dengan sendirinya. Ini pasti terjadi saat LDR (let down reflex). Bahkan ini saya alami setiap saat pada periode awal (2 bulan pertama) menyusui. 2 bulan awal tersebut saya sangat repot dengan asi yang mengalir keluar nonstop. Jadi breastpad ini sangat menyelamatkan saya. Memang sih, saat itu kantong saya cukup terkuras karena penggunaan breastpad ini. Tetapi tenang, itu tak berlangsung selamanya, kok. Memasuki bulan ketiga, rembesan asi yang keluar lebih terkontrol, hanya terjadi saat LDR atau payudara sedang dalam keadaan sangat penuh. Jadi penggunaan breastpad saat ini jauh lebih hemat. Oh iya, breastpad ini terdapat dua jenis, yaitu disposable (sekali pakai lalu buang) dan washable (bisa dicuci lalu dipakai berulang kali). Saya sih lebih memilih disposable breastpad. Saya pernah mencoba yang washable, tetapi kurang suka dengan kemampuan menyerapnya. Tetapi washable breastpad ini lumayan efisien digunakan kok. Merk yang saya gunakan adalah Pigeon. Dan si Pigeon Disposable Breastpad ini tidak susah dicari. Banyak terdapat di supermarket ataupun baby shop lokal. Range harga breastpad bervariasi, tergantung merk. Kira-kira antara IDR 40-150K. Kalau Pigeon yang biasa saya beli, satu dos isinya 66pcs, harga sekitar IDR 120K.

Pigeon Disposable Breast Pads

3. Nipple Cream
Hal merepotkan ketiga, puting lecet. Ini saya alami pada periode awal menyusui (2-3 bulan pertama). Dan ini juga banyak dialami oleh ibu-ibu lain. Bagi yang pernah mengalami pasti tahu kan betapa menyiksanya kejadian ini? Oleh sebab itu, nipple cream sebagai penolong tentunya adalah keharusan. Selain meredakan sakit akibat puting lecet, nipple cream juga dapat digunakan untuk perawatan payudara, misalnya untuk massage. Yang saya pakai adalah Mothercare It's Your Body Nipple Cream. Belinya di Mothercare Manado Town Square (MANTOS), bulan Januari 2016. Harga nipple cream memang cenderung mahal. Sekitar IDR 100-200K (75 ml). Tapi tenang, karena penggunaannya cukup hemat. Tiap pakai cukup gunakan sedikit saja, jadi pasti lama habisnya.

Mothercare It's Your Body Nipple Cream

Nah, itu dia 3 item that I think every breastfeeding mom must have. Selain 3 item di atas, saya punya list beberapa item yang urgensi penggunaannya lebih optional. Bisa punya, bisa tidak, tergantung kepentingan dan preferensi masing-masing. Berikut saya paparkan, berdasarkan pengalaman saya. Keep in mind, bahwa saya adalah fulltime mom yang sehari-hari kerjanya mengurus anak di rumah. I'm not an office working mom.

4. Breast Shells
Breast shell ini sebenarnya pahlawan tambahan saat puting lecet. Karena gesekan dengan kain bra bisa membuat puting lecet lebih sakit, jadi saya gunakan breast shell ini. Jadi fungsinya sama seperti breastpad, tapi bedanya ASI yang keluar tidak diserap, namun ditampung pada sebuah wadah berbentuk cangkak. Bagusnya, breastshell ini menghindarkan puting lecet dari sentuhan kain bra. Jadi perihnya berkurang. Sangat membantu. Tetapi, pada saat menggunakan breast shell ini kita butuh perhatian lebih. Harus selalu mengontrol ASI yang tertampung dalam cangkang. Karena salah gerak sedikit saja ASI dalam cangkak akan keluar lewat lubang pori, alhasil bra dan baju basah karena rembesannya. Itu sering sekali saya alami saat kena puting lecet dulu. Dan itu cukup menyebalkan sih. Jadi waktu itu penggunaanya saya akali sedikit, setelah pakai breast shell, bagian luarnya saya lapisi lagi dengan disposable breast pad. Supaya kalau ASI yang tertampung dalam cangkang tumpah, akan terserap oleh breast pad. Tapi tetap repot sih. Tapi saya cukup menyarankan penggunaan breast shell untuk meminimalisir perih akibat lecet. Harganya juga tidak begitu mahal, jadi bolehlah dibeli, just in case sometimes you'll need. Breast shell yang saya gunakan adalah produk dari DrBrown's, belinya di gerai Mothercare Manado Town Square (MANTOS). Harganya sekitar IDR 100-200K (Februari 2016).

DrBrown's Breast Shells

5. Nursing Cover (Apron Menyusui)
Hmm, ini salah satu item yang lagi ngetren di kalangan modern moms, terutama di kota-kota besar. Fungsi utamanya adalah untuk menutupi bagian dada ketika menyusui di tempat umum. Terutama di tempat-tempat yang tidak menyediakan nursing room. Tetapi, buat saya pribadi sih, fungsi nursing cover ini bisa juga kok digantikan oleh shawl biasa. Dan saya kurang cocok menggunakan nursing cover, karena anak saya suka gerak-gerak saat menyusu, jadi agak percuma menggunakan nursing cover. Soal tertutup atau tidak, saya sih masih bisa mengakali dengan baju. Hehehe.. Saya memang agak cuek sih menyusu di tempat umum. Entahlah, saya menganggap breastfeeding adalah hal yang sangat manusiawi dan bukan menjadi masalah ketika jarus terekspos. Kalau ada orang yang memandang itu dan merasa itu menimbulkan niat jahat, itu sih salah mereka ya menurut saya. Yang penting kita berniat baik untuk memenuhi hak anak kita kapanpun dan dimanapun. Oh, terkecuali untuk ibu-ibu yang berhijab. Nursing cover memang item wajib nomor satu. Hehehe.. Tetapi, besides all that, sebenarnya ada fungsi lain dari nursing cover yang lumayan menguntungkan buat saya. Yaitu, sebagai selimut saat menyusui ketika cuaca dingin. Ini cukup bagus bagi yang bertempat tinggal di daerah dengan iklim sejuk cenderung dingin, saya salah satunya. Dan satu lagi yang menarik soal nursing cover, motifnya lucu-lucu. Seperti punya saya, dari Bibntucker Baby.

Nursing Cover Bibntucker Baby

6. Breastmilk Storage Kit
Nah, sebenarnya ini teman setianya breastpump. Buat working moms yang harus menyimpan ASIP, ataupun ibu-ibu bukan working moms yang melakukan bottle-feeding, ini juga item penting. Breastmilk storage sebenarnya banyak macamnya, ada botol, maupun plastik. Terserah ibu-ibu saja mau pilih yang mana. Kalah untuk penyimpanan dalam jumlah banyak dan untuk waktu lama, plastik mungkin bagus digunakan. Tetapi kalau untuk menyimpan dalam jumlah sedikit, mungkin botol cukup efisien. Selain botol dan plastik, cooler bag juga salah satu item penting untuk membawa ASIP kemana-mana (terutama bagi yang bottle-feeding). Berdasarkan hasil browsing, brand cooler bag yang paling banyak direkomendasikan di Indonesia sih GabaG. Tetapi saat saya mau membeli sayangnya model GabaG yang saya inginkan stoknya lagi habis, jadi saya beli cooler bag dari Autumnz Trendy. Saya suka sekali desain simplenya. Oh iya plus ice pack nya juga, saya beli di Asibayi.com, kalau untuk plastik dan botol kaca sih di baby shop lokal juga ada kok.

Breastmilk Storage

Well, that's all, mommies. Sekali lagi, ini berdasarkan pengalaman dan preferensi pribadi saya. Sebenarnya masih banyak item-item lain yang menawarkan fungsi-fungsi berbeda pula. Rajin-rajin browsing dan baca referensi dan review aja, untuk menemukan breastfeeding stuffs yang paling dibutuhkan oleh ibu-ibu sekalian. Semoga bermanfaat.
Read More

Monday, May 9, 2016

My Motherhood Diary; Pulang Lebih Awal

Senang sekali long week end yang baru saja lewat kali ini Erich dapat kunjungan dari oma (papa) dan tantenya. Walaupun dia sempat mengalami sedikit masalah waktu berkunjung ke keluarga oma. Erich memang kulitnya sangat sensitif, terutama di bagian lipatan-lipatan leher, ketiak, dan selangkangan. Jadi kemarin kita sekeluarga hendak berkunjung ke rumah keluarga oma di Amurang, daerah Minahasa Selatan. Tapi karena di sana udaranya cenderung panas dan Erich terbiasa dengan udara sejuk, sampai disana dia gerah dan berkeringat luar biasa. Dia menangis berteriak kesakitan sampai gemetar. Rupanya kulit lehernya merah dan lecet, ditambah keringat, pasti perih sekali. Saya sampai sedih melihat dia menangis sampai segitunya. Kedua omanya pun sampai takut juga. Karena gak bisa dibujuk lagi. Alhasil kita pulangnya lebih cepat dan rencana lain dibatalkan. Perasaan saya campur aduk banget. Sedih, lihat anak nahan sakit. Merasa gak enak juga sama keluarga yang kita kunjungi karena akhirnya harus pulang lebih cepat. Padahal dari rumah niat saya udah pengen banget bawa Erich ketemu keluarga, sudah saya siapkan baju lebih banyak kalau-kalau dia kegerahan bisa lebih sering ganti baju, bawa salep ini itu, tapi ternyata semua tetap saja di luar dugaan.

Ternyata memang gak gampang untuk bawa bayi bepergian. Semua butuh persiapan yang serba detail. Pertama-tama yang harus dipikirkan memang kondisi bayi kita. Setelah itu, tujuan kemana akan kita pergi. Apakah suasananya berbeda jauh dengan tempat tinggal bayi? Jika ya, kita mesti melalukan persiapan lebih agar bayi kita dapat menyesuaikan dengan mudah. Yang terpenting, kita harus rela untuk sedikit lebih ribet dari biasanya (waktu sebelum punya anak). 

Dan memang, parenting is a lifetime learning. Akan selalu ada hal baru yang tak terduga, dan semua itu yang membuat kita terus belajar.
Read More

Sunday, May 1, 2016

My Breastfeeding Journey (First Trimester)

Kebanyakan wanita pasti mempunyai impian, ingin menjadi ibu seperti apa ia nantinya. Bahkan jauh sebelum mereka menemukan pasangan hidup. Sama seperti saya, jauh sebelum hamil saya sering berkhayal, kalau sudah punya anak nanti saya ingin seperti ini dan seperti itu. Keinginan dalam diri kita sebagian besar dipengaruhi oleh apa yang kita lihat, dengar, dan apa yang ada di sekitar kita. 

Jauh sebelum hamil dan punya anak, saya banyak melihat dan mendengar tentang asi eksklusif. Dari televisi, misalnya para artis yang memberi asi eksklusif untuk anaknya. Dari internet, saya beberapa kali membaca artikel di rubrik kesehatan yang mengampanyekan pentingnya pemberian asi eksklusif. Saya terpengaruh, dan memutuskan untuk memberi asi eksklusif jika sudah punya anak nanti. 

Waktu berjalan beberapa tahun, dan saya hamil. Tapi ternyata banyak hal yang terlewatkan oleh saya tentang persiapan menjadi ibu menyusui. Ya, hal-hal sederhana seperti rajin membersihkan puting saat hamil tua, rajin melakukan pijat payudara, dan lain-lain, itu semua tidak saya lakukan saat hamil trimester ketiga. 

Singkat cerita, semua berjalan sebagaimana adanya dengan hanya modal niat sampai tiba saatnya saya melahirkan. Proses bersalin berlangsung secara normal dengan waktu tunggu sekitar 12-14 jam. Anak saya lahir sehat, lucu dan menggemaskan. Sesaat setelah ia keluar, saya merasa lega pastinya. Sesudah itu ia diambil untuk dibersihkan (tetapi belum dimandikan), dan saya bergulat dengan plasenta dan episiotomi. Proses mengejan yang saya lewati tidak begitu lama, kurang dari setengah jam setelah memasuki ruang bersalin, anak saya sudah lahir. Tetapi setelah ia keluar justru menjadi saat yang cukup menyiksa untuk saya. Entah kenapa, proses episiotomi terasa sangat menyakitkan bagi saya. Padahal banyak saya dengar cerita dari teman-teman, jika telah melalui sakitnya menunggu bukaan dan proses mengejan, maka proses penjahitan tidak akan terlalu terasa sakitnya. Tapi yang saya rasakan justru sebaliknya. Apalagi episiotomi tanpa bius. Terlebih saya harus menjalani plasenta manual. Sambil berteriak kesakitan saat episiotomi, saya hanya dikuatkan dengan memandang bayi saya yang mulai dibedong rapi oleh perawat lain, dan dihangatkan di bawah cahaya lampu yang letaknya agak jauh dari saya. Sampai semuanya selesai, saya dibersihkan. Kemudian bayi saya akhirnya dibaringkan di sebelah ibunya yang mulai kelelahan. Saya cium baunya yang imut sekali. Hahaha.. Itu menjadi bau terfavorit selama hidup. Kemudian saya disuruh untuk menyusuinya. Saya pun langsung menyodorkan payudara kiri ke si bayi. Dan hisapan pertamanya ternyata kencang sekali. Sesekali saya tarik keluar payudara saya untuk melihat apakah ada cairan yang keluar? Dan ternyata ada. Cairan bening kekuningan, kolostrum. Saya lega, meskipun tidak melalui proses IMD yang ideal, setidaknya kolostrum tidak terlewatkan oleh bayi saya. 

Setelah selesai saya susui, tibalah hal yang menyedihkan bagi saya. Tenaga medis menyarankan untuk memberi susu formula. Padahal sebelum melahirkan saya sudah mengkomunikasikan dengan suami dan keluarga, bahwa saya tidak ingin bayi diberi susu formula. Sedih dan marah rasanya saat itu. Tetapi saya kelelahan untuk berdebat dengan suami dan keluarga yang sepertinya terpengaruh dengan saran tenaga medis, dan saya merasa seperti kurang dipercaya. Alasannya klasik, karena bayi kuning. Di dalam kepala saat itu rasanya ingin saya teriak sekeras-kerasnya: "BAYI BISA BERTAHAN 2 HARI TANPA MAKAN MINUM SETELAH IA LAHIR!!!" Tapi saya kelelahan untuk berdebat. Karena kelelahan itu saya mulai pasrah dengan keadaan. Alhasil saya memandang dengan perasaan gemas bayi saya diberi susu formula menggunakan dot. Saya yang saat itu fanatik sekali dengan asi eksklusif justru kehilangan total niat untuk menyusui. Saya pikir, gagal total niat saya yang sudah lama ingin saya wujudkan. Momen melahirkan memang momen yang rentan stress bagi ibu. Ditambah kehilangan cukup banyak tenaga dan darah, pada saat pertama kali ke toilet saya merasa kelelahan dan mengantuk, dan saya sempat kehilangan kesadaran antara pingsan atau tertidur, dan ternyata saya jatuh lemas. Untung saja ditemani suami. Setelah itu saya hanya bisa berbaring dan tidur. Menyusui dikesampingkan dulu. Keadaan tubuh saya saat itu sungguh sangat tidak nyaman. Saat tertidur bayi saya diberi susu formula. Dan saya biarkan saja. Tetapi setelah bangun dan merasa agak enak, syukurlah pikiran saya kembali jernih meskipun secara fisik belum nyaman. Saya berpikir, yang terpenting adalah saya tetap berusaha memenuhi hak anak saya, yaitu memperoleh asi. Soal susu formula, ya sudahlah saya menjadi lebih lunak. Setelah itu saya susui bayi saya setiap ia bangun. Walaupun asi yang keluar mungkin hanya satu sendok teh atau bahkan kurang. Jadi setiap habis menyusu ia diberi susu formula. 

Setelah beberapa kali menyusu, saya mulai merasakan perih pada puting payudara. Saya pernah membaca bahwa puting lecet seringkali disebabkan perlekatan (latch on) yang tidak tepat. Tetapi sejak menyusu pertama kali saya perhatikan tidak ada masalah dengan perlekatan antara mulut bayi dan payudara saya. Lalu kenapa lecet? Ternyata permasalahan ada pada bentuk puting payudara saya. Memang pernah juga saya baca, bahwa ibu dengan bentuk puting apapun bisa menyusui, karena bayi menyusu pada areola, bukan pada puting. Dengan kata lain bentuk puting bukan menjadi halangan untuk menyusui. Tetapi pada kenyataanya, ibu dengan bentuk puting normal akan lebih mudah menyusui anaknya dibanding ibu dengan puting datar, cekung ke dalam, dan lain-lain. Dan ternyata bentuk puting saya memang tidak seperti puting normal. Lebih pendek, bahkan seringkali tak terlihat timbul puting. Ibu dengan permasalahan puting seperti saya butuh usaha dan penyesuaian lebih untuk menyusui. Lalu mengapa lecet? Karena meskipun perlekatan sudah benar, puting pendek saya itu belum mencapai langit-langit lunak dalam mulut bayi saya. Lubang-lubang pada puting juga masih tersumbat karena jarang dibersihkan sedari hamil. Ditambah hisapan yang kencang dan volume asi yang keluar masih sedikit, jadi tidak ada cairan yang melembabkan dan mengurangi rasa sakit ketika menyusui. Dan saya katakan bahwa menyusui dengan puting lecet rasanya sangat mengerikan. Periiiihhh sekali. Tidak pernah saya rasakan yang seperih itu dalam hidup saya. 

Setelah sehari bayi saya lahir, pagi berikutnya tiba saatnya ia harus dimandikan oleh perawat di ruang mandi bayi. Dan ternyata ditemukan tanda alergi kemerah-merahan di tubuhnya. Perawat sempat bertanya apakah anak saya kena gigit semut atau apa, dan kami jawab tidak. Lalu mereka sendiri yang mengasumsikan bahwa anak saya alergi terhadap susu formula. Aaah terima kasih ya Tuhan. Saya senang sekali. Saat itu tekad saya kembali bulat untuk memberi asi secara full. WALAUPUN, puting lecet masih menghantui dan perihnya semakin terasa. Saya menyusui sambil meringis, menahan perihnya puting lecet, ditambah sakitnya jahitan, saya sulit sekali untuk duduk nyaman. Sampai-sampai saya pernah menangis sesenggukan karena stress, merasa tertodong harus menyusui dengan perih yang luarbiasa. Jujur saja, momen menyusui saat itu menjadi yang paling horor untuk saya. Saya sempat berpikir, kok katanya saat menyusui bisa menimbulkan rasa bahagia karena hormon oksitosin atau apalah itu namanya. Tapi kalau kesakitan begini bagaimana mau bahagia. Yang ada justru stress. 

Namun di tengah stress tersebut asi saya justru mulai melimpah. Seperti yang sudah saya bilang di awal, saya menyusui hanya modal niat. Jadi menjelang melahirkan saya belum tahu ada benda-benda seperti breast pad, breast shell, nipple shield, dan lain-lain. Setelah Erich anak saya berumur 4 hari, saya mulai kewalahan dengan asi yang tumpah-tumpah. Ya tumpah-tumpah. Asi yang keluar banyak sekali, baju selalu basah, tempat tidur juga sering basah, bukan karena ompolan bayi tapi karena tumpahan air susu ibunya. Bahkan pernah sekali saya menyusui bayi tengah malam, dan saya terbangun subuhnya karena kedinginan. Setelah dicek ternyata tempat tidur yang saya tiduri sudah basah kuyup kena tumpahan asi. Setelah mengenal breast pad, saya cukup terbantu untuk mengatasi masalah leaked. Meskipun penggunaan breast pad saat itu boros sekali karena asi yang tumpah benar-benar tak terkontrol. Tapi saat itu saya belum menyimpan asi perahan, karena tidak ada tempat untuk menyimpan. Kulkas di rumah hanya satu, dan freezernya sering dipakai untuk menyimpan ikan, daging dan bahan makanan lain. Sebenarnya ada kulkas milik suami di tempat kosnya, tapi karena kewalahan mengurus bayi kulkas itu belum sempat diambil. Jadi saya selalu menyusu langsung.

Di satu sisi saya sangat bersyukur, karena produksi asi melimpah. Saya senang asi saya banyak. Tapi di sisi lain saya mengeluh, karena puting lecet masih menghantui. Seminggu, dua minggu.. Keadaan masih sama. Saya masih kesakitan saat menyusui. Bahkan sampai berderai-derai airmata. Belum lagi demam karena payudara bengkak. Suami seringkali hanya bisa menatap dengan wajah kasihan. Dia juga bingung mau buat apa, sementara saya hanya bisa menangis menahan sakit, atau tidak bersuara tetapi airmata begitu deras mengalir. 

Saya pernah membaca blog mbak Andra Alodita, tentang breastfeeding journey yang dia alami juga tidak mudah. Ia bercerita bahwa 3 minggu pertama merupakan masa terberat yang dia alami. Dan saya sangat setuju dengan itu. Menyusui di masa nifas itu berat sekali, butuh mental baja. Saat nifas kondisi tubuh saya belum pulih total. Tenaga serasa kurang, ditambah harus mengurus bayi baru lahir yang butuh kesabaran ekstra, harus bangun tengah malam untuk ganti popok, dan menyusui dengan horornya puting lecet yang menghantui. Keluarga sempat kasihan dan menyuruh saya untuk membeli susu formula yang bahan dasarnya kedelai, sebagai pengganti jika alergi susu sapi. Tetapi kali ini saya tegas menolak. Saya ingin anak saya mendapat asi sepenuhnya. Itu haknya, dan saya ingin penuhi haknya. This is what I want. Let me keep trying. Kalau sudah benar-benar tidak mampu baru saya menyerah. Dan saya bersyukur di tengah-tengah stress yang lumayan menyita energi itu, produksi asi saya tetap lancar. Kembali ke modal niat.

Setelah lewat masa nifas, keadaan tubuh saya mulai pulih dan saya merasa lebih baik. Namun mengapa masalah lecet pada puting masih saja ada? Sempat sembuh seminggu, kemudian lecet lagi. Alhasil saya harus menyusui sambil meringis-ringis lagi. Saya sempat mengganti merk breastpad, memakai nipple cream, tapi hasilnya sama saja. Ternyata masalah kali ini adalah posisi menyusui yang kurang tepat, sehingga perlekatannya juga kurang tepat. Aahh apa-apaan ini? Kenapa baru sekarang bermasalah di perlekatan? Tapi mama sering cerita bahwa teman-temannya dulu juga mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah. Ada yang putingnya hampir putus. Sabar saja katanya. Terus saja disusui nanti juga sembuh sendiri. 

Entah darimana saya dapat kesabaran dan kekuatan untuk tetap menyusui dengan keadaan demikian. Mungkin modal niat yang saya katakan tadi. Saya ingin penuhi hak anak saya, itu saja.Tetapi perlahan-lahan, masalah lecet mulai sembuh seiring waktu. Puting tersumbat mulai bersih, posisi menyusu juga semakin terlatih. Semua karena saya tetap menyusui hingga saya dan anak saya sama-sama terbiasa. That's all because we're keep trying.

Sampai sekarang anak saya berusia tiga bulan lebih, saya masih memberi dia asi penuh. Bayangkan saya harus melalui penyesuaian selama 3 bulan. But it's all worth it. Memang benar kata orang yang lebih berpengalaman. Tatapan bayi saat menyusu itu tidak tergantikan oleh apapun. Saya bahagia bisa memberi asi penuh kepadanya, dan saya bersyukur diberkahi asi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan anak saya. Saya juga terus berdoa agar bisa menyusui anak saya hingga 2 tahun. 

Lewat tulisan ini saya hanya ingin berbagi pengalaman. Bahwa menyusui itu memang tidak mudah. Setia ibu pasti punya kesulitan yang berbeda dan punya cara berbeda pula dalam memberikan yang terbaik bagi anaknya. Saya mengapresiasi para ibu yang bisa menyusui anaknya. Tetapi saya juga tidak menghakimi bahwa ibu yang tidak menyusui anaknya bukanlah ibu yang baik bagi anaknya. Selama seorang ibu berjuang untuk anaknya,  maka ia adalah ibu terbaik bagi anaknya. Apapun bentuk perjuangan ibu tersebut, sejauh itu untuk kebaikan anaknya. Dan dalam perspektif saya, menyusui merupakan salah satu bentuk perjuangan yang dapat saya usahakan untuk anak saya. Dan akan terus saya lakukan.

Untuk para ibu yang belum bisa menyusui anak-anaknya dan merasa tersudutkan dengan judgement orang tentang anda, don't worry moms. You're still moms. Saya tahu bahwa di luar sana masih banyak ibu yang belum bisa menyusui karena mungkin terpapar faktor stress yang tidak kita alami dan mengerti. Tetapi perjuangan anda mengandung selama 9 bulan pun sudah sangat patut dihargai, karena saya percaya setiap ibu pasti punya kesulitan yang berbeda. 

Dan untuk para ibu yang bisa menyusui anaknya (termasuk saya), kita patut bersyukur karena kesempatan berharga itu. Dan kita patut bangga atas perjuangan kita untuk bisa menyusui. Tapi kita tidak perlu menghakimi ibu-ibu lain yang tidak seberuntung kita. Walaupun mereka tidak seperti kita, tetapi mereka punya kehebatan lain yang mungkin tidak kita lihat. 

Positive mind merupakan kunci utama untuk para ibu, baik yang menyusui ataupun tidak. Pikiran positif akan membuat kita lebih mudah merasa bahagia. Dan ibu yang bahagia adalah ibu yang terbaik untuk anaknya, entah ia ibu menyusui atau bukan. Happy mommy healthy baby. So just be positive, moms!
Read More
Theme images by Jason Morrow. Powered by Blogger.

© Brilsya, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena